5 Tips Lighting untuk Food Photography
Kualitas pencahayaan bisa mengangkat hasil food photography kamu dari sekadar bagus menjadi luar biasa. Setup lighting yang tepat mampu mengubah atmosfer sebuah foto sekaligus menonjolkan tekstur makanan dengan lebih efektif. Walaupun natural light sering digunakan dalam food photography, artificial lighting menawarkan fleksibilitas lebih, tampilan yang lebih rapi, dan kontrol yang lebih presisi. Mari bawa food photography kamu ke level berikutnya dengan tips lighting menggunakan artificial light berikut ini.
1. Memilih cahaya yang tepat untuk food photography

Jenis cahaya yang kamu gunakan punya pengaruh besar terhadap hasil akhir foto. Beberapa jenis artificial light yang populer antara lain:
- Continuous LED lights: Cahaya LED konstan ini jadi andalan banyak fotografer makanan profesional karena bisa diatur dan memberikan pencahayaan stabil. Ukurannya beragam, bentuk, hingga color temperature berbeda-beda, sehingga fleksibel untuk berbagai kondisi pemotretan. Untuk food blogger yang sering foto di rumah, LED continuous biasanya jadi pilihan utama.
- Ring lights: Ring light yang melingkari lensa kamera cocok banget untuk food shot close-up. Cahaya yang merata ini bisa mempertegas tekstur dan menonjolkan permukaan reflektif seperti minuman atau kaca. Tapi, untuk setup makanan yang lebih besar, ring light kurang efektif.
- Studio strobes/flash: Sumber cahaya ini menghasilkan kilatan singkat tapi intens, ideal untuk membekukan gerakan baik dalam still-life maupun action shot. Cahaya flash bisa membekukan momen seperti uap panas dari makanan atau aksi saat menyiapkan hidangan.
- Tungsten Lights: Dikenal juga sebagai incandescent light, menghasilkan cahaya hangat kekuningan. Memberi mood yang nyaman dan menarik untuk foto makanan. Namun karena menghasilkan panas lebih besar, biasanya jarang dipakai.
- Fluorescent lamps: Lampu fluorescent punya variasi color temperature, cukup fleksibel dan ramah lingkungan karena hemat energi. Tapi sering kali butuh penyesuaian white balance karena warnanya bisa agak kehijauan atau kebiruan.
2. Gunakan lighting modifiers
Lighting modifiers penting banget untuk mengatur cahaya artificial agar hasil foto sesuai keinginan. Beberapa yang sebaiknya ada di toolkit kamu:
- Softboxes: Bentuknya kotak besar, biasanya persegi panjang atau segi delapan, dengan material difusi di dalamnya. Fungsinya melembutkan cahaya sehingga makanan terlihat lebih menarik. Umumnya dipasangkan dengan LED atau studio strobes.
- Diffusers: Bahan semi-transparan yang ditempatkan di antara sumber cahaya dan objek. Fungsinya menyebarkan cahaya supaya bayangan lebih lembut. Cocok untuk mengurangi shadow yang keras pada food photography.
- Reflectors: Sesuai namanya, alat ini memantulkan cahaya ke arah makanan dari sudut berbeda. Misalnya, dipasang di samping makanan untuk menambahkan side lighting yang lebih cantik. Pilihannya beragam: putih untuk cahaya netral lembut, silver untuk pantulan lebih kuat, dan gold untuk efek hangat seperti cahaya matahari.
3. Matikan lampu dapur yang overhead

Jangan anggap lampu dapur akan membuat makanan terlihat lebih bagus. Cahaya dari lampu dapur biasanya menghasilkan tone kuning yang tidak alami dan jatuh dari atas, sehingga membuat tekstur makanan jadi flat dan kurang hidup.
4. Do’s and Don’t arah lighting untuk food photography
Arah datangnya cahaya berpengaruh besar terhadap hasil foto. Beberapa teknik arah cahaya yang umum:
- Light sejajar dengan posisi kamera: Menghasilkan kontras minim antara cahaya dan bayangan, sehingga foto terlihat flat dan kurang berdimensi. Jarang dipakai dalam food photography. Overhead light juga cenderung menghasilkan bayangan vertikal yang kurang menarik, kecuali untuk food shot dari atas.
- Light dari bawah (ground level): Biasanya dipakai dalam teater, bukan food photography. Tapi kadang dipakai untuk menonjolkan kesegaran buah atau sayuran dengan meja transparan khusus. Cahaya dari bawah membantu menekankan tekstur transparan yang segar.
- Backlight direction: Cahaya dari belakang sangat ekspresif, memberi efek dramatis, membentuk outline yang jelas, dan banyak dipakai dalam food photography.
- Front side lighting: Cahaya dari samping depan menonjolkan bentuk dan detail makanan dengan efek tiga dimensi. Cocok untuk makanan berwarna terang seperti nasi atau mie. Disarankan menggunakan tripod agar hasil lebih stabil.
- Side backlight: Kombinasi side light dan backlight, menciptakan outline makanan, menonjolkan tekstur, sekaligus memperkuat warna. Efek tiga dimensi lebih kuat dan warna makanan terlihat lebih transparan serta hidup. Contohnya, tekstur cake yang lembut, warna salmon, atau uap panas ramen terlihat sangat menarik dengan teknik ini.
5. Perhatikan color dan temperature cahaya

Warna cahaya memengaruhi suasana dan emosi dalam foto.
- Warm tones (kuning/oranye) menciptakan nuansa hangat, ramah, dan nyaman. Cocok untuk comfort food, dessert, atau makanan dengan tone warna earthy.
- Cool tones (hijau/biru) memberi kesan segar dan modern. Pas untuk seafood, salad, atau makanan dengan warna dingin yang cerah.
Sumber: Colborlight.com
