Review Saramonic Air

Ada banyak pilihan mic wireless di pasaran, jadi Creator bisa menemukan yang sesuai untuk kebutuhan profesional video maupun content creator di media sosial. Rentang harga dan spesifikasinya pun beragam, jadi kalau penasaran bisa cek panduan pembelian best wireless microphone untuk lihat berbagai opsi yang tersedia.

Saramonic Air adalah mic wireless dengan paket standar, yang di dalamnya sudah termasuk dua transmitter yang bisa dijepit ke orang yang sedang diwawancarai dan pewawancara. Receivernya bisa disambungkan ke smartphone atau kamera lewat USB-C atau kabel 3.5mm TRS. Ini memungkinkan kamu bisa bergerak sambil bicara dari jarak jauh, lalu suara kamu akan langsung dikirim secara wireless ke receiver dan terekam di kamera.

Pengalaman saya sebelumnya dengan mic Saramonic adalah saat mencoba Blink500 ProX B2R di bulan Agustus 2024. Berkat harga dan fitur-fiturnya (seperti onboard recording), Blink500 ProX B2R memang lebih ditujukan ke pengguna profesional, berbeda dengan Saramonic Air yang lebih terjangkau dan tidak punya fitur perekaman internal.

Saramonic Air justru lebih mirip dengan Blink 500 B2+ yang rilis Maret 2024, walaupun teknologi yang lebih baru membuat kualitas audio Saramonic Air terasa lebih unggul dibanding seri lama tersebut.

(Image credit: Future / George Cairns)

Lalu, apakah layak beli Saramonic Air yang baru ini, atau justru mending pilih model lama yang lebih murah? Yuk kita ulas…

Saramonic Air: Specifications

Transmitter Specifications
Transmission Type 2.4 GHz digital frequency
Transmission Range Up to 300m (without obstacles)
Polar Pattern Omnidirectional
Frequency Response 20 Hz to 20 kHz
Sensitivity -32 dB
Sampling Rate 48 kHz
Bit Rate 24-bit
Signal-to-noise Ratio >=85 dB
Max SPL 120 dB
Battery Life 10 hours
Weight 11 g
Receiver Specifications
Audio Output Lightning / USB-C / 3.5 mm TRS output; 3.5mm monitor port
Battery Life Screen On: 6.5 hours; Screen Off: 9.5 hours
Dimensions (L x W x H) 53 x 25 x 15.5 mm
Weight 22 g

Saramonic Air: Price

Saramonic Air dijual seharga sekitar Rp2,300,000 saat diluncurkan (tanpa lavalier mic) dan sekitar Rp2,600,000 dengan dua lavalier mic. Jadi kalau Creator merasa tidak perlu tampilan lavalier mic yang lebih tersembunyi, bisa hemat sedikit dengan cukup menjepitkan mic transmitter plastik ke baju subjek.

Dalam paketnya sudah disediakan adaptor USB-C supaya receiver-nya bisa langsung dicolok ke berbagai jenis smartphone. Ada juga kabel TRS ke TRRS 3.5mm untuk sambungan ke kamera. Tapi kalau kamu pengguna iPhone lama, perlu diperhatikan bahwa adaptor Lightning hanya tersedia pada versi rilis Amerika. Jadi tidak semua paket punya adaptor ini.

(Image credit: Future / George Cairns)

Versi Saramonic Air yang punya adaptor Lightning dan USB-C dijual sedikit lebih mahal, yaitu sekitar Rp2,500,000 tanpa lavalier mic dan Rp2,800,000 dengan dua lavalier mic.

Dengan spesifikasi yang ditawarkan, harga tersebut tergolong cukup masuk akal karena kualitas audio yang dihasilkan memang bagus. Namun, saya pribadi merasa tambahan biaya sekitar Rp300,000 untuk dua lavalier mic cukup layak, karena tampilannya lebih rapi dan kualitas suara yang dihasilkan terasa lebih halus dan natural dibandingkan mic transmitter bawaan.

Saramonic Air: Design & Handling

Seperti kebanyakan mic wireless, Saramonic Air terdiri dari dua transmitter kecil berbentuk kotak plastik yang bisa dijepit (atau ditempel pakai magnet) ke presenter, serta satu receiver yang bisa disambungkan via adaptor USB-C ke smartphone (atau kamera lewat kabel jack 3.5mm). Semuanya tersimpan dalam kotak yang sekaligus berfungsi sebagai charging station. Dengan begini, semua unit bisa terisi daya secara merata saat digunakan, jadi kamu nggak perlu khawatir mic pewawancara kehabisan baterai saat wawancara berlangsung. Cukup satu kabel USB-C untuk mengisi daya semuanya sekaligus. Receiver-nya juga bisa disambung ke adaptor kecil agar bisa dipasang ke hot-shoe DSLR atau kamera mirrorless.

Dalam siaran persnya, Saramonic bilang kalau desain Saramonic Air terinspirasi gaya “retro-futuristic”. Saya sendiri sudah berumur 60-an, jadi buat saya “retro” itu berarti tahun 70-an atau 80-an. Tapi bentuk receiver dengan sudut membulat, layar TFT warna, dan tombol power merah kecil itu lebih mengingatkan saya pada teknologi tahun 90-an. Mungkin generasi Z memang menganggap 90-an itu sudah retro! Yang jelas, casing-nya cukup unik dibandingkan mic wireless lain karena punya badan logam melengkung berwarna hitam dengan kaca transparan di bagian atas. Bagian transparan ini berguna karena kamu bisa langsung lihat status charging transmitter dan receiver tanpa harus buka tutupnya. Ini bukan cuma menarik secara visual, tapi juga praktis.

Paket Saramonic Air juga menyertakan dua lavalier mic kabel yang bisa dijepitkan ke kerah baju buat tampilan yang lebih halus dan tidak mencolok. Tipe mic ini cocok banget untuk produksi dokumenter atau drama yang nggak mau terlihat ada mic besar menempel di pakaian aktornya.

Kotak charger-nya ringkas dan mudah masuk ke saku. Kalau kamu mau bawa perlengkapan tambahan seperti wind shield, clip, dan lavalier mic, semuanya bisa disimpan di tas serut bermerek yang juga sudah termasuk dalam paket, lalu dimasukkan ke tas kamera kamu.

Saramonic Air: Performance

Saya sudah bikin video corporate sejak zaman kamera U-Matic tahun 80-an yang besar banget dan harus bawa recorder terpisah di pundak, lalu beralih ke camcorder Mini-DV tahun 90-an, DSLR di tahun 2000-an, dan sekarang lebih banyak pakai iPhone 16 Pro untuk rekaman, termasuk untuk review di Digital Camera World. Makanya saya senang banget lihat logo Made for iPhone/iPad di kemasan Saramonic Air. Artinya, saya bisa langsung colok adaptor USB-C ke receiver Saramonic Air, lalu pasang ke iPhone. Setelah itu, cukup jepit mic ke baju dan langsung rekam audio-video dengan kualitas bagus lewat aplikasi kamera bawaan. Konsep plug and play ini benar-benar praktis (dan seharusnya juga sama gampangnya kalau dipakai di Android).

Dulu, saat masih pakai iPhone model lama dengan port Lightning, sering kali iPhone gagal mendeteksi mic dan malah mengira itu adalah headset. Ini bikin ribet karena harus utak-atik pengaturan lagi. Untungnya, dengan produk Made for iPhone seperti Saramonic Air, masalah itu sudah nggak terjadi lagi.

Untuk mengetes performa, saya bawa Saramonic Air ke taman di sebuah bangunan bersejarah. Waktu itu hujan, tapi saya menemukan lorong tanaman panjang buat uji jarak. Saramonic Air adalah sistem mic wireless dual-channel 2.4 GHz, dan suara saya terdengar sangat jernih dan seimbang—antara bass dan treble. Dari jarak 7,5 meter, suara saya tetap stabil walaupun membelakangi kamera. Tapi mulai jarak 30 meter, sinyal mulai putus-putus karena kehilangan line of sight. Ini wajar untuk mic wireless, dan sinyal langsung kembali begitu saya hadap kamera lagi. Bahkan dari jarak sekitar 50 meter pun, kualitas audionya tetap terasa bagus seperti saat hanya 1 meter dari kamera.

(Image credit: Future / George Cairns)

Saya juga mencoba colok lavalier mic ke transmitter buat bandingin kualitas suaranya. Lavalier mic bawaan Saramonic Air berukuran 9,7 mm dengan diaphragm 6 mm—sekitar 1,5 kali lebih besar dari lav mic standar. Hasil suaranya lebih bagus dibanding mic bawaan transmitter, dengan suara bass yang dalam dan treble yang tajam. Mungkin karena posisi lavalier mic lebih dekat ke mulut. Mic ini juga punya bidang tangkap suara yang menghadap ke depan, jadi bisa meminimalisir plosive. Waktu saya dekatkan ke mulut dan ucapkan kata “perfect” dan “professional”, nggak ada suara letupan yang biasanya mengganggu. Kamu bisa dengar sendiri perbedaannya di video review pendukung artikel ini.

Saya juga sempat pakai lavalier mic ini buat wawancara sinematografer Andrew Rodger soal lensa yang dia pakai untuk film Sessions. Saya merasa lebih “profesional” pakai lavalier mic dibanding menempelkan transmitter besar ke bajunya. Hasil audionya sangat baik dan sebanding dengan pencahayaan teal and orange dari dua lampu tabung Viltrox K90 yang saya pakai. Cuma sedikit gangguan dari gesekan wind shield busa dengan kaos Andrew, jadi lain kali kalau rekaman indoor, saya akan lepas wind shield-nya.

Mic wireless kadang punya masalah latency (suara tertinggal beberapa frame). Untungnya di Saramonic Air, latensinya sangat kecil, jadi saya nggak perlu repot sinkronisasi ulang saat editing.

Masalah lain biasanya adalah noise angin. Tapi ini bisa dikurangi pakai windshield. Saramonic Air menyertakan dua wind shield model dead cat untuk transmitter-nya. Windshield ini gampang dipasang dan nggak mudah lepas—sangat membantu, apalagi setelah saya coba Boyalink 3 yang wind shield-nya terlalu sempit dan susah dipasang ke mic bulatnya.

Saramonic Air juga punya fitur noise-cancelling berbasis AI untuk mengurangi suara latar yang mengganggu. Biasanya saya skeptis dengan fitur ini karena bikin suara jadi tipis atau aneh. Tapi di Saramonic Air, transmitter-nya punya dua level noise-cancelling yang bisa diaktifkan lewat tombol NC di receiver. Ikon kecil akan muncul di layar TFT warna ukuran 1,05 inci untuk menunjukkan level aktifnya.

Waktu saya coba di taman buat meredam suara burung, level pertama cukup mengurangi tanpa mengubah kualitas suara saya. Level kedua kurang terasa bedanya. Sayangnya, fitur ini hanya bisa diaktifkan dari receiver, tidak dari mic-nya langsung. Tapi kamu masih bisa mute mic langsung lewat tombol merah di samping transmitter.

Kalau kamu rekam pakai aplikasi Saramonic, kamu bisa akses hingga lima level noise cancellation. Tapi menurut saya, level yang lebih tinggi malah bikin suara terdengar terlalu pelan atau teredam, jadi saya lebih sarankan tetap pakai fitur dua level yang bawaan. Di aplikasi, ada juga fitur lain seperti low-cut filter buat mengurangi suara angin atau handling noise, serta opsi Vocal Booster saat rekam video—walau saya belum sempat coba fitur terakhir itu.

Saramonic Air: Verdict

Saramonic Air memang dipasarkan sebagai mic profesional, dan hasil audionya terdengar sangat baik. Fitur limiter-nya membantu mencegah distorsi, dan kamu bisa rekam jalur safety di level -6dB untuk menghindari audio yang terpotong. Tapi kalau kamu benar-benar butuh fitur profesional, harusnya mic ini punya onboard recording, sayangnya transmitter-nya belum punya fitur penting itu.

Meski begitu, sinyal baru drop kalau saya membelakangi kamera di jarak sekitar 25 meter. Saat hadap kamera di jarak 35 meter, sinyal 2.4 GHz dual-channel masih terdengar bersih dan jelas, dengan kualitas suara mulai dari treble yang tajam sampai bass yang kuat. Jadi kalau kamu butuh mic wireless dengan kualitas profesional dan harga menengah, Saramonic Air sangat cocok. Apalagi ada port headphone di receiver untuk monitoring langsung, jadi kamu bisa cek apakah ada gangguan seperti drop sinyal atau suara pesawat.

Bagian paling lemah dari Saramonic Air menurut saya adalah fitur noise cancellation-nya yang masih agak ringan. Tapi setidaknya, fitur ini nggak membuat suara kamu jadi digital atau tipis seperti beberapa mic wireless lain. Jujur saja, saya lebih suka proses noise reduction dilakukan di tahap editing pakai aplikasi seperti Premiere Pro atau Final Cut Pro, karena hasilnya pasti lebih maksimal. Jadi buat saya, fitur noise reduction saat rekaman bukanlah deal breaker.

Diterjemahkan dari : digitalcameraworld.com

Leave a Reply
Chat

Klik Tombol di bawah ini
untuk Chat

Jam Operasional 09:00 - 22:00